Mewabahnya Covid-19 memberikan dampak yang sangat besar kepada masyarakat. Bahkan bukan hanya pada bidang kesehatan saja, akan tetapi berbagai bidang pun turut mendapatkan dampaknya, seperti bidang ekonomi, lingkungan, sosial dan bahkan pendidikan. Penyebaran covid-19 memaksa semua orang untuk dapat menyesuaikan diri, dan mencari solusi atau alternative baru dalam menjalankan kebiasaan atau aktivitasnya. Beberapa kegiatan mungkin dapat dihentikan atau ditunda untuk sementara waktu, akan tetapi bagaimana dengan kegiatan yang tidak dapat ditunda atau bahkan dihentikan ?
Seperti halnya kegiatan di bidang Pendidikian.
Kegiatan Pendidikan harus terus berjalan, karena ini
menyangkut generasi penerus bangsa. Jika sampai pendidikan dihentikan dan
menunggu wabah benar-benar dapat diatasi, tentu akan sangat mempengaruhi masa
depan bangsa ini. Dan sampai saat ini tidak ada yang bisa menjamin wabah ini
akan berakhir dalam waktu yang dekat. Tercatat semenjak pertama kali kasus
covid-19 masuk ke Indonesia hingga sekarang, berarti kurang lebih sudah 5 bulan
wabah covid-19 berada di Indonesia dan kasusnya pun semakin meningkat. Jika
sampai pendidikan di hentikan terlebih dahulu, dampaknya mungkin akan kita rasakan
dibeberapa tahun yang akan datang.
Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun
2017/2018, di Indoensia terdapat 25,5 juta murid yang berada di Sekolah Dasar, kemudian
terdapat 10,1 juta murid di Sekolah Menengah Pertama, sebanyak 4,8 Juta murid di
Sekolah Menengah Atas dan 4,9 Juta murid yang berada di Sekolah Menengah
Kejuruan. Selain itu, menurut data BPS tahun 2019, tedapat juga sebanyak 7.3
Juta mahasiswa di Indonesia. Dengan demikian, sangat penting untuk tetap
menjaga keberlangsungan pelaksanaan pendidikan di Indonesia, karena akan
sangat mempengaruhi masa depan bangsa.
Beruntungnya kita saat ini, hidup di era teknologi
yang sudah maju dan canggih. Permasalahan yang muncul akibat wabah covid-19 dapat diatasi
dengan memanfaatkan kemajuan teknologi. Termasuk permasalahan pelaksanaan
pendidikan di situasi wabah covid-19. Pelaksanaan pembelajaran yang biasanya
dilakukan dengan sistem tatap muka langsung yang dilaksanakan di satu tempat
yang sama, digantikan untuk sementara dengan sistem pembelajaran Daring/Online. Pemberlakukan social distancing/pshycal distancing,
serta PSBB (Pemabatasan Sosial Berskala Besar) mengharuskan proses pembelajaran
dilaksanakan dengan system online. Metode
atau system online ini dipilih karena
dinilai tepat untuk memecahkan dua masalah sekaligus, yaitu untuk memutus
rantai penyebaran covid-19 dan keberlangsungan pendidikan di masa pandemic.
Lantas bagaimana sebenarnya pelaksanaan pembelajaran
dengan sistem Daring ?
Pelaksanaan proses pendidikan dengan menggunaan sistem
Daring merupakan metode pembelajaran yang dilakukan secara online dan jarak jauh menggunakan media aplikasi. Istilah Daring
merupakan akronim atau singkatan dari “Dalam Jaringan”. Menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia (KBBI) istilah Daring memiliki arti terhubung melalui jejaring komputer,
internet atau sebagainya. Maka, sistem Daring bisa dilaksanakan dengan
menggunakan media berupa gadget atau komputer/laptop
yang tersambung dengan jaringan internet. Dalam pelaksanaanya, sistem
pembelajaran Daring biasanya menggunakan beberapa aplikasi, seperti yang
biasanya dipakai adalah google classhroom,
googlemeet, Zoom, WhatsApp Grup dan
lain sebagainya.
Media dan aplikasi ini bisa dikatakan menjadi syarat
agar proses pembelajaran Daring bisa dilaksanakan. Tanpa itu semua, tentunya sistem
Daring tidak akan bisa dilaksanakan. Lalu apakah siswa, mahasiswa dan tenaga
pengajar sudah bisa memenuhi persyaratan tersebut ?
Jawabannya mungkin IYA.
Buktinya, sistem Daring berhasil “DIPAKSAKAN” dan
diterapkan di Indonesia dengan segala KETERBATASAN dan KEKURANGAN.
Covid-19 mewabah di Indonesia kurang lebih sudah 5
bulan lamanya, dan kurang lebih selama itu pula sistem Daring telah
dilaksanakan. Sistem ini sebenarnya mempunyai beberapa kelebihan yang dapat
dirasakan, baik untuk siswa, mahasiswa ataupun tenaga pengajar, seperti lebih
menghemat tenaga karena tidak usah datang ke sekolah atau kampus, proses
belajar lebih santai bisa sambil rebahan dan tidak perlu memakai seragam
sekolah atau baju yang sesuai dengan aturan kampus, serta jika dapat
dilaksanakan secara baik, sistem ini dapat memberikan manfaat peningkatan
kemampuan siswa/mahasiswa dalam kemandirian, pemikiran kritis, me-manage diri seperti mengatur waktu, pekerjaan dan
lain sebagainya. Itulah beberapa sisi baik dari sistem Daring.
Bagaimana dengan sisi lain dari pelaksanaan sistem
Daring ?
Sisi lain atau penilaian lain tentang pelaksanaan sistem
daring merupakan keterbatasan dan kekurangan yang dirasakan saat melaksanakan sistem Daring. Karena
tidak semua orang dapat menjalankan sistem Daring dengan baik, dan tidak semua
orang mempunyai fasilitas penunjang dan kapabilitas dalam melaksanakan sistem Daring.
Sehingga munculah permasalahan-permasalahan yang dirasakan dari keterbatasan
pelaksanaan sistem Daring.
Maka dalam tulisan ini, saya mencoba untuk membahas
beberapa keterbatasan dan kekeurangn yang dirasakan saat harus melaksanakan pembelajaran dengan
menggunakan sistem Daring. Keterbatasan dan kekurangan ini merupakan apa yang saya rasakan,
saya amati di lingkungan sekitar dan atas masukan dari beberapa teman saya yang
juga ikut memberikan pandangannya tentang keterbatasan saat melaksanakan sistem
Daring.
1.
Keterbatasan pemenuhan
syarat terlaksananya sistem daring berupa media (gadget, laptop/komputer) dan kemampuan menggunakannya. Bagi sebagian
orang yang sudah mempunyai gadget
atau laptop/komputer yang sudah memadai atau support terhadap pelaksanaan sistem Daring, mungkin tidak akan merasakan
keterbatasan akan pemenuhan syarat terlaksananya sistem Daring. Akan tetapi
perlu kita ingat, bagaimana dengan orang yang tidak dapat memenuhi syarat ini ?
Meski saat ini sudah masuk pada era modern dan kemajuan teknologi, tidak
menjamin semua orang sudah mempunyai gadget
dan laptop/komputer yang memadai untuk pelaksanaan sistem Daring. Mengingat bahwa
harga nya pun tidak murah, dan mungkin bagi sebagian orang akan kesulitan untuk
membelinya. Maka munculah masalah baru bagi orang tersbut karena keterbatasannya.
Selain
itu, keterbatasan lain yang muncul adalah, apakah semua orang dapat menggunakan
gadget, laptop/komputer, dan aplikasi
penunjang lainnya seperti menggunakan google
clashroom, zoom, googlemeet, dan lain sebagainya ? Bagi sebagian besar
orang khususnya siswa dan mahasiswa mungkin ini tidak terlalu menjadi masalah. Akan
tetapi bagaimana dengan tenaga pengajar, Guru dan Dosen? terlebih untuk para
tenaga pengajar yang sudah lanjut usia dan sulit untuk menggunakan media dan
aplikasi. Situasi ini akan menyulitkan tenaga pengajar sekaligus siswa dan mahasiswanya.
Mau tidak mau tenaga pengajar ataupun siswa dan mahasiswa harus belajar
menjalankan aplikasi penujang pembelajaran tersebut.
2.
Keterbatasan Jaringan
internet dan kuota internet. Selain media gadget,
laptop/komputer, syarat untuk dapat melaksanakan sistem Daring adalah adanya
jaringan internet dan tentunya kuota internet. Tanpa itu, tidak mungkin sistem Daring
terlaksana. Dan bagi sebagian orang, mungkin penyediaan jaringan internet dan
kuota internet bisa menjadi sebuah masalah baru. Bagaimana dengan orang yang
tinggal di daerah terpencil ? pegunungan ? atau daerah lain yang sulit mendapatkan
jaringan ? tentunya harus ada usaha lebih untuk mendapatkan jaringan. Dan berapa
kuota yang dihabiskan untuk pelaksanaan sistem Daring ? apalagi jika harus men-download video atau proses pembelajaran
dengan video call. Tentunya akan
menguras kuota internet. Dan ujung-ujungnya harus mengeluarkan biaya tambahan
lagi.
Untuk
mengatasi permasalahan ini apakah pemerintah memberikan bantuan pembelian kuota
? setidaknya subsidi ? hmm…
Mungkin
dibeberapa kampus ada yang memberikan bantuan untuk pembelian kuota internet,
atau dengan memotong biaya semester kuliah. Tapi bagaimana dengan kampus yang
tidak memberikan bantuan atau subsidi kuota ? atau yang menjanjikan pemberian bantuan
tapi nyatanya tidak turun-turun ?
Inilah
yang menjadi salah satu permasalahan dari sistem Daring yang muncul akibat dari
keterbatasan jaringan internet dan kuota internet.
3.
Lingkungan belajar.
Ketika belajar di rumah ternyata justru malah membuat tidak fokus terhadap
pembelajaran. Sering terganggu oleh kegiatan lingkungan sekitar, yang terkadang
tidak kondusif. Ditambah adanya beberapa pekerjaan rumah yang juga harus
diselesaikan, membuat terkadang proses pembelajaran menjadi kurang maksimal. Dan
sering juga proses belajar kita malah ter-distract
oleh kegiatan lain.
Berbeda
dengan proses belajar biasa/secara langsung, karena benar-benar merupakan
lingkungan akademis. Kita bisa lebih fokus terhadap pembelajaran dan bisa
langsung sharing-sharing materi
dengan siswa/mahasiswa lainnya ataupun dengan tenaga pengajar secara langsung.
4. Keterbatasan Pemahaman dan Tugas Menumpuk. Permasalahan muncul ketika pembelajaran yang dilakukan hanya dengan di kirimnya materi dari tenaga pengajar kepada siswa atau mahasiswa. Materi hanya di share tanpa dijelaskan. Langsung di berikan tugas. Waktu pengerjaan yang mepet. Dan itu hampir berlaku di setiap pelajaran/matakuliah. Bagaimana bisa kita memahami materi dengan baik jika hanya di-share tanpa dijelaskan ? untuk memahami materi dikelas saja gampang-gampang susah, apalagi dengan hanya di share. Sungguh sangat menguras pemikiran dan memberikan tekanan mental kepada siswa/mahasiswa.
Dari keterbatasan dan kekeurangan tersebut, kita tidak
dapat menyalahkan pihak manapun untuk disudutkan. Akan tetapi, sebenarnya kita
dapat menilai pihak mana yang mempunyai kewajiban untuk mengatasi segala
keterbatasan tersebut.
Kesimpulannya cukup sederhana, yaitu Sistem Daring
berhasil “DIPAKSAKAN” dan diterapkan di Indonesia dengan segala KETERBATASAN dan KEKURANGAN
Iya betul sekali bung, di situasi seperti ini kita jangan merasa terbatasi tapi harus lebih mengeksplor diri untuk sesuatu yang lebih berarti
BalasHapus